Pertolongan dan Pengobatan Penyakit Epilepsi (Sawan)

Pengobatan Penyakit Epilepsi
X-PENYAKIT - Pertolongan pertama pada epilepsi, kita dapat membantu orang epilepsi dengan melakukan beberapa hal ketika terjadi serangan. Ketika ada orang kejang karena serangan epilepsi usahakan agar tubuhnya tidak terkena benda keras atau tajam yang dapat melukai. Jauhkan ia dari tempat berbahaya, longgarkan bajunya, miringkan kepalanya kesamping untuk mencegah lidahnya menutupi jalan pernapasan. Jangan memasukkan benda apapun kedalam mulutnya, jangan mengerumuni orang yang sedang mendapatkan serangan karena ia sangat membutuhkan oksigen dan ketenangan.

Pengobatan Medis Untuk Epilepsi

Pengobatan medis konvensional menyebutkan bahwa epilepsi dapat disembuhkan seperti halnya penyakit lain. Sementara ini dokter biasanya meresepkan obat untuk diminum secara rutin oleh para penderita OD. Dengan minum obat secara teratur diharapkan serangan epilepsi dapat dikendalikan bahkan hilang dan mereka dapat hidup selayaknya orang normal. Jika selama minimal 2 tahun serangan tidak muncul, maka obat dapat dihentikan tentunya sesuai rekomendasi dari dokter.

Kalau dari obat saja tidak mempu mengendalikan serangan, ada beberapa alternatif pengobatan epilepsi. Antara lain adalah bedah epilepsi atau bedah otak dan Diakgetokgenik. Bedah otak atau operasi ini memang memerlukan usaha yang lebih besar, biaya yang dikeluarkan relatif mahal untuk operasi ini. Dengan operasi sumbatan-sumbatan pada pembuluh darah diotak penyebab epilepsi dapat dihilangkan. Namun tidak semua penyakit epilepsi dapat disembuhkan dengan operasi. Dengan kemajuan penemuan obat, epilepsi memang sudah dapat diatasi dengan pada sekitar 60% penderitanya, namun 30% penderita lainnya tidak mempan dengan pengobatan ini.

Dalam kondisi seperti ini maka pilihan pengobatan dengan Diakgetokgenik menjadi harapan yang menjanjikan. Diakgetokgenik sesungguhnya berupa bentuk pola makanan yang mengandung unsur lemak sangat tinggi dan karbonhidrat sangat rendah. Pola makan cara seperti ini menyerupai kondisi orang yang kekurangan makan berat, dimana tubuh terpaksa membakar lemak dan bukan karbonhidrat sebagai sumber energinya. Dalam keadaan normal karbonhidrat didalam tubuh akan diubah menjadi glukosa dan kemudian akan dialirkan melalui pembuluh darah sebagai bahan bakar termasuk ke otak.

Namun bila tidak ada karbonhidrat, maka hati akan mengubah lemak menjadi asam lemak dan keton. Keton ini akan menuju ke otak menggantikan glukosa sebagai sumber energi. Adanya peningkatan keton dalam darah yang disebut dengan getoksis ini terbukti dapat mengurangi serangan kejang epilepsi secara bermakna.

Pengobatan Herbal untuk Epilepsi ala Thibbun Nabawi

Menurut Thibbun Nabawi atau metode pengobatan yang digunakan oleh Nabi Muhammad SAW, epilepsi disebabkan karena cairan rutubah yang menumpuk. Rutubah adalah cairan dalam tubuh yang bersifat basah atau lembab. Jumlah cairan rutubah seharusnya seimbang dengan cairan lain yang bersifat panas atau haroroh. Cairan ini mengalir mengatur keseimbangan tubuh, kalau jumlahnya berlebihan dan menumpuk maka akan menghambat cairan lain.

Harga obat yang tidak murah dan harus dikonsumsi setiap hari oleh penderita epilepsi selama tahunan mungkin akan terasa berat bagi pasien yang kurang mampu. Terapi pengobatan dengan Thibbun Nabawi menggunakan tanaman-tanaman yang bersifat menenangkan. Ramuan-ramuan yang digunakan cukup sederhana, anda bisa membuatnya dirumah. Siapkan 5 gram jahe dan 10 gram pegagan, kemudian direbus dengan 2 gelas air, didihkan sampai air tersisa satu gelas lalu minum airnya saat masih hangat. Jahe dan pegagan ini mempunyai kandungan untuk melancarkan peredaran darah dan menenangkan. Dengan kondisi cairan yang tenang dan tidak bergejolak diharapkan serangan epilepsi tidak terjadi

Selain dengan tanaman herbal, terapi pengobatan Thibbun Nabawi untuk epilepsi adalah Bekam atau hijamah. Bekam adalah salah satu metode pengobatan untuk epilepsi, tujuannya adalah untuk mengeluarkan darah kotor dan radikal bebas yang meracuni tubuh. Dengan terapi secara teratur dan benar maka darah dalam tubuh akan kembali lancar, tujuannya akhirnya adalah untuk mengurangi bahkan sampai menghentikan serangan epilepsi.

Nah, bagi orang epilepsi atau OD sebaiknya membuka diri. Epilepsi bukan dari akhir segalanya, buktinya ada orang epilepsi yang sukses dalam karier, pendidikan dan keluarganya. Menghadiri pertemuan antara OD akan sangat membantu untuk proses pengobatan epilepsinya.

Baca Juga:

Related Posts:

Penyebab Penyakit Epilepsi atau Ayan

Penyakit Ayan atau Epilepsi
X-PENYAKIT - Menurut kedokteran konvensional penyebab penyakit epilepsi atau ayan ini beragam antara lain karena tumor otak, cedera kepala, atau gejala dari sisa penyakit seperti infeksi otak, meningitis maupun stroke. Ada juga yang disebabkan karena cacat dari lahir atau kelainan genetika, dan 30% kasus epilepsi tidak diketahui penyebabnya. Masyarakat umumnya mengetahui bahwa serangan epilepsi berbentuk kejang disertai mulut berbusa. Padahal tidak hanya itu saja, serangan epilepsi dapat berupa hilang kesadaran atau bengong tiba-tiba menjatuhkan atau melempar benda yang dipegang bahkan bisa terjadi perubahan perilaku secara ekstrem. Dan yang harus perlu diketahui juga adalah bahwa epilepsi bukan penyakit menular. Pandangan negatif ini harus diluruskan karena selama ini para penyandang epilepsi cukup merasa dikucilkan akibat stigma ini.

Otak Manusia terdiri dari 100 milyar sel-sel saraf yang disebut Neuron. Neuron ini membawa sinyal keseluruh bagian otak dan antara otak kebagian-bagian lain dari tubuh. Tiap Neuron menghasilkan sinyal listrik yang akan disebarkan dalam bentuk sinyal penghantar listrik. Pada suatu serangan epilepsi terjadi aktifas listrik abnormal di otak dengan bentuk manifestasi berupa beberapa gerakan yang tidak disadari oleh penderitanya. Berdasarkan jenis serangan, epilepsi dibagi menjadi 2 macam yaitu:

Epilepsi Umum atau Terganggunya Kesadaran

Pada epilepsi umum terbagi beberapa jenis
  1. Absence dimana pasien tampak hilang kesadaran sesaat atau bengong dan berlangsung hanya beberapa detik saja.
  2. Tonic Clonic yaitu berupa kejang klojotan seluruh tubuh yang kadang disertai dengan mulut berbusa.
  3. Tonic yaitu serangan berupa kejang atau kaku seluruh tubuh.
  4. Atonic yaitu serangan berupa tiba-tiba jatuh seolah-olah tidak ada pertahanan
  5. Myoclonic yaitu berupa kontraksi dari salah satu atau beberapa otot tertentu.

Epilepsi parsial

Serangan yang meliputi parsial sederhana, parsial kompleks, dan umum sekunder. Parsial sederhana atau tanpa gangguan kesadaran dapat berupa gangguan motorik seperti rasa kesemutan disalah satu sisi tubuh. Sedangkan parsial kompleks disertai gangguan kesadaran misalnya mulut seperti mengecap-ngecap diikuti kejang seluruh tubuh. Dan serangan epilepsi umum sekunder merupakan perkembangan dari parsial sederhana atau kompleks menjadi umum.

Epilepsi seharusnya tidak menghalagi seseorang untuk berprestasi didalam berbagai bidang. Bahkan epilespsi seharusnya tidak menghalangi seseorang untuk menikah, hamil dan mempunyai anak. Seorang wanita dengan epilepsi tetap diperbolehkan untuk hamil dengan beberapa cacatan. Memang ada efek terburuk kalau wanita hamil mengalami serangan epilepsi. Kontraksi yang terjadi saat epilepsinya kambuh dapat membawa buruk pada janinnya. Tetapi kalau serangannya dapat diantipasi, wanita dengan epilepsi dapat tetap hamil seperti wanita normal lain.

Baca Juga:

Related Posts:

Mengenali Penyakit Epilepsi Disekitar Kita

Kenali Penyakit Epilepsi
X-PENYAKIT - Epilepsi, penyakit ini biasa juga disebut dengan ayan atau sawan. Meski sudah dikenal sejak dahulu namun masih ada anggapan yang keliru di masyarakat tentang penyakit satu ini. Tak jarang banyak dari anggota masyarakat yang menutup diri dari penyakit ini. Kasus epilepsi masih sangat tinggi dinegara berkembang, di Indonesia saja yang berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa diperkirakan sekitar 8 juta orang menyandang epilepsi, sedangkan yang belum terdeteksi pun masih cukup banyak. Meskipun bukan penyakit mematikan tetapi banyak masalah pelik mengikuti para penyandang epilepsi. Mulai dari penyebab misterius, beban psikologis sampai ke pengobatan yang membutuhkan waktu lama.

Keluhan penyandang epilepsi ini baru secuil masalah masih banyak problematika lainnya yang dialami orang dengan epilepsi atau juga disebut dengan istilah OD. Lalu mengapa epilepsi harus menjadi perhatian kita semua? Apa sajakah stigma negatif yang harus dihilangkan dan diluruskan dari pada penderita OD? Simak penjelasannya berikut ini.

Epelipsi atau ayan adalah kelainan saraf terbanyak kedua didunia setelah stroke. Penyakit yang menjakiti kurang lebih 50 juta manusia didunia. Kelainan ini ditandai dengan kekejangan atau seizure yang terjadi secara berulang tanpa pemicu. Nama epilepsi berasal dari istilah Yunani Epilepsia yang berarti dirampas atau direbut. Sejak ribuan tahun yang lalu orang-orang babilonia dan romawi kuno mempercayai bahwa kejang terjadi karena masuknya setan atau roh kedalam tubuh seseorang dan dapat menular bila menyentuhnya, sehingga mereka akan meludah untuk menyingkirkan setan tersebut.

Pada zaman Renaissance orang mulai berpikir bahwa mereka yang mempunyai epilepsi dapat menjadi Nabi, hal ini karena mereka mampu melihat masa lalu, saat ini dan masa mendatang. Adapula yang menganggap orang dengan epilepsi adalah orang yang sangat cerdas karena beberapa orang di kaisaran romawi menderita epilepsi, salah satunya adalah Julio Ceasar. Selain Julio Ceasar ada juga tokoh dunia yang mempunyai epilepsi antara lain Jendral Besar Pemimpin Bangsa Perancis Napoleon Bonaparte bahkan penemu hukum gravitasi Isaac Newton dan pegagas hadiah nobel Alfred Nobel yang juga disebut menderita epilepsi.

Pada tahun 400 SM Hippocrates menulis buku pertamanya tentang epilepsi dan membantah bahwa epilepsi adalah sebuah kutukan atau kekuatan kenabian. Hippocrates mengatakan bahwa epilepsi adalah gangguan otak, diakui pula bahwa kejang dapat mengubah kesadaran, sensasi dan perilaku. Pada tahun 1929 seorang psikiater Jerman bernama Hans Berger menemukan bahwa arus listrik pada otak dapat direkam dengan alat tanpa harus membuka tengkorak. Arus listrik yang dihasilkan oleh otak dapat digambarkan secara grafis diatas kertas. Alat inilah yang saat ini dikenal dengan alat Elektroensefalogram atau disingkat EEG.

EEG biasanya dipakai untuk mendeteksi adanya cetusan listrik dalam otak. Jadi orang-orang yang sudah punya gejala-gejala epilepsi biasanya diperiksa dengan alat ini. Hasil pemeriksaan EEG ini digunakan untuk memastikan diagnosa dokter dari beberapa gejala yang dialami oleh orang dengan epilepsi.

Baca Juga:

Related Posts:

Mengatasi dan Mencegah Diabetes Dengan Pengobatan Herbal

Herbal Untuk Diabetes
X-PENYAKIT - Ada 3 jenis herbal yang telah diteliti dapat mengobati diabetes yakni sambiloto, pare dan kayu manis. Namun fokus tanaman herbal adalah perbaikan fungsi dan kinerja dari pankreas sebagai organ yang memproduksi insulin. Sambiloto dan kayu manis dikonsumsi dengan cara menkonsumsi air kedokannya yang dimasak dalam pinggang kayu maupun kaca. Sedangkan buah pareh untuk meningkat fungsi pankreas dikonsumsi dengan cara dibuat smoothies.

Pengobatan lain yang bisa dilakukan bagi pengidap diabates yakni bekam. Bekam sangat berperan sebagai terapi pada diabetes tipe 2 yang disebabkan oleh kelebihan zat besi yang mempengaruhi fungsi normal pankreas dan menyebabkan penurunan produksi insulin. Dengan proses pengeluaran darah secara langsung dengan bekam kandungan zat besi pun turun begitu pula kadar gula darahnya. Titik pembekaman biasanya dibagian punggung yang merupakan cerminan dari organ-organ yang ada bagian depan seperti pankreas. Sementara dibagian depan biasanya diambil titik yang berhubungan dengan hati.

Untuk mengontrol kadar gula darah dapat juga memanfaatkan ekstrak kulit manggis yang merupakan antioksidan tinggi. Berdasarkan penelitian ekstrak kulit manggis bahkan lebih baik daripada antioksidan pada vitamin C dan vitamin E. Kandungan antioksidan tinggi ini sangat bermanfaat menangkal radikal bebas dan mengurangi resistensi insulin yang terjadi akibat menumpuknya lemak dalam tubuh. Molekul radikal bebas akan merusak sel-sel beta penghasil insulin melalui proses oksidasi sehingga sel ini mengalami penurunan fungsi bahkan gagal berfungsi, celakanya radikal bebas ini tak stabil dan sangat mudah bereaksi dengan molekul lain membentuk radikal bebas yang baru.

Zat aktif dalam ekstrak kulit manggis mampu merangsang regenerasi dari sel-sel yang telah rusak tersebut serta melindunginya dari ancaman radikal bebas. Kandungan Gamamangostin yang terdapat pada ekstrak kulit manggis juga dapat membantu mencegah oksidasi kolesterol jahat yang menjadi salah satu pemicu terjadinya lonjakan kadar gula darah. Kini ekstrak kulit manggis telah hadir dalam bentuk kapsul yang praktis dan mudah dibawah untuk berpergian. Dengan rangkaian proses pembuatan alami, kapsul ekstrak kulit manggis aman untuk dikonsumsi.

Baca Juga:

Related Posts:

Ciri Gejala Umum Penyakit Diabetes

Gejala Penyakit Diabetes
X-PENYAKIT - Diabates atau biasa disebut dengan penyakit kencing manis adalah kondisi dimana terjadinya peningkatan kadar gula darah dalam tubuh seseorang akibat menurunnya fungsi pankreas. Pankreas adalah organ yang memproduksi insulin yang berfungsi menetralkan kadar gula darah manusia. Kadar gula darah normal manusia adalah 70-110 mg/dl. Setelah 2 jam mengkonsumsi makanan kadar gula normal harusnya tidak lebih dari angka 200 mg/dl. Semantara kadar gula sewaktu normal tidak lebih dari 140 mg/dl.

Waspadalah jika saat kadar gula darah berada pada angka 100-126 mg/dl dan angka 140-200 mg/dl untuk gula darah sewaktu. Karena ini merupakan salah satu tanda menuju kondisi diabetes alias berat diabetes. Normalnya sel-sel tubuh membutuhkan gula agar dapat bekerja secara normal, namun saat gula dalam tubuh menumpuk dan berlebihan dalam darah maka akan mengganggu hormon insulin yang bertanggung jawab memecah gula dan mendistribusikan kedalam sel-sel tubuh.

Beberapa Tipe Diabetes

Ada beberapa tipe diabetes, diabetes tipe 1 adalah mereka yang sangat tergantung pada suntikan insulin, ini terjadi karena organ pankreas gagal memproduksi insulin. Diabetes tipe satu biasanya terjadi akibat reaksi auto imunitas tubuh yang merusak organ pankreas.

Diabetes tipe 2 adalah mereka yang mengidap diabetes akibat gaya hidup. 80% pengidap diabetes tipe 2 organ pankreasnya masih bisa memproduksi insulin. Namun gaya hidup banyak menkonsumsi makanan tinggi lemak dan makanan manis membuat produksi insulin dalam tubuh tergeru secara terus menerus.

Ada juga pengidap diabates gestasional yang biasa dialami oleh ibu selama masa kehamilan dan pulih setelah melahirkan. Jika tidak mendapatkan perawatan yang baik, diabetes gestasional bisa membuat bobot badan bayi bisa berada diatas angka normal mengalami kelainan jantung bawaan, kelainan sistem saraf pusat, serta cacat otot rangka. Pada kasus diabetes gestasional yang parah kematian sebelum kelahiran pun dapat terjadi.

Gejala Penyakit Diabetes

Ciri gejala umum penyakit diabetes yakni intensitas buang air yang meningkat khususnya di malam hari, rasa haus yang berlebihan dan bobot badan yang menurun drastis tanpa sebab. Pengidap diabetes juga akan mengalami masalah pada penglihatannya, akibat gangguan pembuluh darah retina. Selain membuat pandangan kabur, diabetes juga meningkatkan resiko terjadinya katarak. Gula darah tinggi yang tak terkontrol juga akan menimbulkan berbagai komplikasi penyakit yang sifatnya segera dan akut atau komplikasi yang sifatnya menahut.

Ada 2 kemungkinan komplikasi akut yaitu terjadinya penurunan ekstrem kadar gula darah yang disebut Hipoglikemik atau bahkan justru terjadi peningkatan tajam kadar gula darah yaitu hiperglikemia.

Komplikasi menahut diabetes 70% kasusnya lebih banyak menyerang organ jantung. Sirkulasi udara yang buruk akan mempengaruhi tekanan darah, gangguan pada jantung, dan penyakit pembuluh darah. Resiko stroke akan menjadi dua kali lipat dalam 5 tahun sejak seseorang terkena diabetes. Belum lagi ancaman gagal ginjal dan kebutaan pada mata.

Gangguan metabolisme pada pengidap diabetes membuat luka tidak kunjung sembuh sebab tubuh sulit membunuh kuman. Amputasi saat mengalami luka membusuk karena diabetes memang tidak selamanya harus diambil jika penderita diabetes bisa menjaga kadar gula dalam darah tetap diangka normal. Saat gula darah normal maka luka akan cepat sembuh. Gula darah yang terus menerus tinggi akan fatal akibatnya karena dapat menginfeksi organ lain dalam tubuh.

Baca Juga:

Related Posts:

Bagaimana Cara Merawat Penderita Tipes

Merawat Penderita Tipes
X-PENYAKIT - Penyakit tipes memang bukan termasuk penyakit berbahaya kecuali tidak diobati atau sudah mengalami komplikasi. Akan tetapi aktifitas anda akan sangat terganggu jika menderita penyakit ini. Yang sangat dibutuhkan untuk dapat pulih dari penyakit tipes adalah istirahat total selama beberapa hari atau bahkan sampai beberapa minggu. Dalam hal ini istirahat yang dimaksud adalah tidak bergerak dari tempat tidur atau bettres, segala kegiatan ditempat tidur termasuk buang air besar dan kecil. Hal ini tentu sangat menggangu bagi orang yang memiliki aktifitas dan kesibukan yang padat. Apalagi jika yang terkena tipes adalah seorang anak usia sekolah sudah pasti pelajaran sekolah akan sangat terganggu. Akan tetapi istrahat total mutlak dilakukan untuk mengembalikan daya tahan tubuh si penderita. Setelah kondisi agak membaik pun penderita tipes belum diperbolehkan untuk beraktifitas yang dapat menguras tenaga.

Penderita tipes pun harus makan makanan yang lunak selama beberapa minggu agar luka di usus tidak semakin parah. Makanan yang harus dikonsumsi adalah makanan yang rendah serat, namun tinggi kalori dan protein. Makanan berbumbu pedas dan asam jelas-jelas terlarang bagi penderita tipes begitu juga dengan makanan yang mengandung kafein dan soda.

Ada beberapa makanan yang dapat dikonsumsi untuk membantu penyembuhan penyakit tipes. Yaitu dengan cara meramu obatan tradisional untuk penderita tipes. Terdiri dari daun simbiloto, kunyit dan temu lawak. Kemudian ketiga bahan tersebut dijadikan satu lalu direbus dengan 3 gelas air hingga mendidih. Hasil rebusan tersebut diberikan dan diminum bagi penderita tipes. Selain itu mengkonsumsi madu juga sangat berguna unutk memulihkan daya tahan tubuh dan membunuh kuman penyebab penyakit.

Seperti yang kita telah ketahui penyakit tipes dan ditularkan melalui makanan dan minuman yang tercemar kuman tipes yaitu Salmonella Typhosa, kotoran, atau air kencing dari penderita tipes. Bila anda sering menderita penyakit ini kemungkinan besar makanan atau minuman yang anda konsumsi tercemar bakteri, karena itu hindarilah makanan atau jajan dipinggir jalan. Begitu juga bagi orang yang belum terkena tipes upaya pencegahan harus dilakukan agar tidak sampai sakit. Hindari juga telur ayam yang dimasak setengah matang, pada kulitnya mungkin saja sudah tercemar oleh tinja ayam yang mengandung bakteri tipes. Daya tahan tubuh juga harus ditingkatkan agar tidak mudah terserang penyakit ini. Makan makanan bergizi baik, istirahat yang cukup dengan tidur teratur 7 hingga 8 jam perhari juga sangat mempengaruhi kondisi tubuh.

Jangan lupa olahraga teratur 3 sampai 4 kali seminggu selama kurang lebih 1 jam. Untuk anak-anak masalah jajan sembarangan harus menjadi perhatian penuh orang tua. Sebaiknya jajan sembarangan dihindari karena daya tahan tubuh anak yang belum sempurna. Tubuh anak mudah terserang bakteri-bakteri jahat terutama yang berasal dari makanan. Makanan pokok memang hanya dapat mencukupi kebutuhan gizi anak sebesar 70 hingga 90 persen, sisanya dipenuhi dengan makanan selingan atau jajanan. Jajanan dianggap praktis, mudah dan murah sayangnya jajanan justru kerap memicu masalah kesehatan pada anak. Kabarnya banyak menggunakan bahan berbahaya, namun yang paling sering karena tidak terjamin kebersihannya sehingga membuat anak rentang terkena penyakit pencernaan seperti tipes. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya memastikan anak mengkonsumsi makanan dan jajanan yang bersih dan sehat.

Kegiatan anak pun harus diperhatikan agar anak tidak terlalu lelah hingga daya tahan tubuh anak menurun. Satu hal yang sangat penting namun kerap dilupakan bahkan dianggap sepele adalah cuci tangan sebelum makan. Cuci tangan pakai sabun adalah cara paling sederhana, mudah dan efektif untuk menjaga kesehatan. Cuci tangan pakai sabun terbukti menurunkan resiko kesakitan dari penyakit diare, kolera dan disentri. Zat pembersih dalam bentuk sabun ini akan membantu pelepasan kotoran dan kuman yang menempel dipermukaan luar kulit tangan dan kuku. Bahan makanan yang akan kita makan pun dan alat makan yang kita gunakan harus dipastikan telah dicuci bersih dengan pembunuh kuman seperti sabun.

Baca Juga:

Related Posts:

Mengobati dan Mencegah Penyakit Tipes

Mengobati Penyakit Tipes
X-PENYAKIT - Ada beberapa cara dalam mengobati dan mencegah penyakit tipes diantaranya melalui pengobatan medis dan alternatif, simak penjelasannya berikut ini.

Pengobatan Medis

Secara kedokteran medis obat untuk penyakit tipes adalah antibiotika golongan kloramfenikol, tiamfenikol, ciprofloxacin dan lain-lain yang diberikan selama 7 hingga 10 hari. Penggunaan obat-obatan ini harus dengan resep dokter. Obat pun diminum sampai habis, meski pada hari ketiga atau keempat demam atau gejala lain sudah mulai redah obat harus tetap diminum. Karena apabila tidak dihabiskan dikhawatirkan bakteri penyebab tipes yang ada didalam tubuh belum semuanya mati, akibatnya tipes akan mudah kambuh kembali.

Pengobatan Alternatif

Selain pengobatan medis ada pengobatan lainnya yang santer terdengar dimasyarakat. Salah satu obat alternatif yang dipercaya dapat menyembuhkan tipes salah satunya adalah ekstrak cacing tanah. Mungkin terdengar menjijikkan namun banyak orang membuktikan keampuhan cacing tanah dalam mengatasi penyakit tipes. Walaupun belum ada penelitian secara medis klinis, beberapa orang telah mengungkapkan bahwa cacing tanah jenis Lumbricus Rubellus dapat digunakan sebagai antipiretik untuk mengatasi demam karena tipes.

Penggunaannya cukup aman bagi tubuh karena efek kimia cacing tanah tidak mengakibatkan efek racun. Cacing tanah jenis Lumbricus Rubellus disebut memiliki kandungan nutrisi diantaranya mengandung kadar protein sangat tinggi yaitu sekitar 76% protein asam animo berkadar tinggi, 17% karbonhidrat, 45% lemak, dan 1,5% abu. Cacing tanah juga disebut memiliki senyawa aktif yang mampu melumpuhkan bakteri Patogen khususnya insersio koli berlebih penyebab diare.

Selain itu ekstrak cacing tanah juga disebut dapat menghambat pertumbuhan bakteri patogen yang dapat menyebabkan tipes. Enzim dalam cacing tanah mampu memperbaiki proses fisiologi tubuh sehingga gangguan penyakit pada sirkulasi darah menjadi berkurang. Bahkan enzim tersebut dapat membantu pencernaan makanan sehingga metabolisme tubuh dapat berjalan dengan lancar.

Selain itu dapat juga mengkonsumsi teripang, karena saat ini teripang sudah dimanfaatkan sebagai obat alternatif untuk penyakit tipes. Teripang mengandung senyawa yang berfungsi sebagai anti bakteri yang mampu menghambat dan membunuh pertumbuhan bakteri penyebab penyakit tipes.

Pencegahan Tipes

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam usaha mencegah penyakit tipes adalah dengan melakukan vaksinasi kedalam tubuh seseorang atau lebih tepatnya kedalam tubuh seorang anak. Ada 2 macam vaksin yang diberikan kedalam tubuh anak.
1. Vaksin berupa kuman mati dan diberikan melalui cara injeksi.
2. Vaksin berupa kuman yang dilemahkan, berbeda dengan vaksin jenis pertama vaksin yang kedua ini diberikan dengan cara oral.
Kedua jenis vaksinasi tersebut tidak bisa diberikan secara sembarangan kepada semua anak. Harus ada beberapa persyaratan terkait dengan pemberian jenis vaksinasi tersebut. Vaksin Thyphoid yang diberikan secara oral hendaknya diberikan kepada seorang anak yang berumur kurang dari 6 tahun. Kemudian vaksinasi yang diberikan secara oral hendaknya diberikan kepada seorang anak yang belum melebih usia 2 tahun.

Baca Juga:

Related Posts:

Mewaspadai Penyebab Gejala Penyakit Tipes (Typus)

Penyakit Tipes
X-PENYAKIT - Jika saat ini anda atau orang terdekat anda mengalami demam tinggi 39 sampai 40 derajat celcius lebih tujuh hari, maka sebaiknya waspada. Apalagi semakin hari demam semakin tinggi dan terjadi pada sore dan malam hari. Jangan anggap enteng gejala ini karena beberapa penyakit berat pun banyak diawali dengan demam, salah satunya adalah penyakit typus (tipes).

Gejala awal penyakit tipes memang seperti mirip flu, demam, lemas, sakit kepala dan sakit tenggorokan. Namun jika gejala ini berlangsung lebih dari 5 hingga 7 hari dan diiringi beberapa gangguan perut, maka anda harus segera memeriksakan diri kedokter. Gangguan perut yang dimaksud antara lain rasa tidak enak diperut seperti sebah, mual, muntah, sembelit, atau sebaliknya justru terjadi diare.

Di masyarakat penyakit ini dikenal dengan tipes atau sering juga disebut dengan typus. Tetapi dalam dunia kedokteran disebut Typhoid Fever atau Thypus Abdonminalis karena berhubungan dengan usus yang terletak didalam perut atau abdomen. tipes adalah penyakit infeksi bakteri pada usus halus dan terkadang menjalar pada aliran darah. Penyakit disebabkan oleh kuman Salmonella Typhi atau Salmonella Paratyphi A, B, dan C. Kuman tersebut umumnya berasal dari makanan yang telah tercemar bakteri Salmonella. Makanan ini masuk saluran pencernaan, setelah berkembang biak bakteri ini menembus dinding usus hingga menuju saluran limfa. Kemudian masuk kedalam pembuluh darah dalam waktu 24 hingga 72 jam.

Pada hari ke 5 hingga ke 9, kuman akan memasuki saluran darah untuk kedua kalinya. Kemudian akan terjadi pelepasan Endotoksin yang akan menyebabkan demam. Lama kelamaan bakteri akan menggoroti usus hingga dinding usus menjadi luka bahkan bolong. Bakteri ini juga dapat merajalela ke organ tubuh lain seperti pembuluh darah jantung, paru-paru, empedu, hati dan tulang. Bahkan tipes dapat juga menyebabkan komplikasi seperti radang paru-paru, radang otak, dan radang selaput otak.

Orang yang terserang tipes pada kotoran dan urinenya akan terdapat bakteri Salmonella Typhi. Sistem sanitasi yang kurang baik dapat membuat bakteri menyebar melalui air yang kemudian di minum oleh manusia. Penyebaran tipes pun bisa juga melalui hewan misalnya lalat. Selain lalat banyak hewan lain sebagai pembawa kuman Salmonella ini. Oleh karena itu jika memiliki hewan peliharaan pastikan hewan tersebut selalu bersih dan hindari hewan liar yang banyak berkeliaran ditempat sampah.

Orang yang terkena penyakit ini akan sangat terganggu aktifitasnya karena diharuskan beristirahat total. Berbagai obat-obatan pun harus dikonsumsi agar segera pulih. Proses penyembuhan relatif lama karena penderita harus berulang kali memastikan bakteri sudah hilang dari tubuhnya dengan tes laboratorium. Penyakit ini banyak menyerang pada musim kemarau dan lebih banyak menyerang anak usia 5 hingga 9 tahun.

Tipes Bisa Menyerang Pada Bayi

Bukan hanya pada anak-anak, tipes pun tak ragu menyerang bayi bahkan yang baru lahir sekalipun. Pada bayi terdapat 2 cara penularan yaitu melalui ibu dan melalui makanan tambahan. Penularan yang pertama melalui ibu dapat terjadi sejak bayi masih didalam kandungan hingga memasuki masa persalinan. Bahkan penyebaran tipes pun dapat terjadi melalui air susu ibu, bahkan ditemukan kasus bayi yang mengalami tipes beberapa jam setelah kelahiran padahal bayi tersebut belum mengkonsumsi asi. Setelah diambil sampel dari cairannya ternyata ada kuman yang dibawa ibu semasa dikandungan. Hal yang harus diketahui bahwa kuman tipes bersifat penetratif dan dapat menembus dinding-dinding barrier.

Pengobatan untuk tipes dilihat dari kondisi bayi dan penyebaran virus pada tubuh bayi. Apabila ringan maka dokter akan menyarankan untuk istirahat dirumah dan memberikan obat antibiotik yang harus dihabiskan. Sedangkan untuk kondisi yang lebih parah, maka perawatan medis akan membantu menghentikan invasi kuman. Selain pengobatan penyebab tipes juga harus diteliti apa penyebabnya. Apabila disebabkan karena pemberian asi yang terkena kuman maka harus dibersihkan dari bakteri penyebab tipes, apabila tidak maka bayi akan mudah terserang kembali. Meskipun demikian bukan berarti pemberian asi yang mempunyai sifat antibody harus dihentikan, hanya pengobatan pada ibu harus dilakukan.

Tipes dan Gejalanya

Tipes atau lebih dikenal dengan typus adalah penyakit akibat terinfeksinya usus halus oleh bakteri Salmonella Thypi dan Salmonella Parathypi. Pada beberapa penderita tipes permukaan lidah mereka terdapat selaput putih. Rasa pahit dilidah terkadang bisa membuat kulit berwarna kuning seperti terkena penyakit hepatitis. Hal ini karena pada penderita tipes juga dapat terjadi pembekakan rongga hati seperti yang terjadi pada penderita hepatitis. Jika tidak segera ditangani dengan tepat, penyakit tipes akan semakin parah. Pada minggu kedua sakit penderita tipes akan mengalami demam yang semakin tinggi, gangguan pencernaan yang lebih hebat, asupan nutrisi kurang hingga tak jarang akan mengalami hilangnya kesadaran.

Badan pun akan semakin lemah hingga tak sanggup bergerak. Pada tahap lebih lanjut, tipes dapat mengakibatkan usus semakin luka hingga dapat menimbulkan pendarahan usus. Pendarahan dapat keluar melalui kotoran saat buang air besar. Kadang juga dapat menimbulkan berbagai macam radang sebagai akibat adanya komplikasi. Penderita tipes akut juga kemungkinan mengalami rambut rontok walaupun sifatnya sementara, hal ini karena adanya demam yang cukup lama.

Baca Juga:

Related Posts:

INSOMNIA (SUSAH TIDUR)

Insomnia

No. ICPC II : P06 Sleep disturbance
No. ICD X : G47.0 Disorders of initiating and maintaining sleep (insomnias)
Tingkat Kemampuan: 4A

Masalah Kesehatan

Insomnia adalah gejala atau gangguan dalam tidur, dapat berupa kesulitan
berulang untuk mencapai tidur, atau mempertahankan tidur yang optimal,
atau kualitas tidur yang buruk. Pada kebanyakan kasus, gangguan tidur
adalah salah satu gejala dari gangguan lainnya, baik mental (psikiatrik) atau
fisik. Secara umum lebih baik membuat diagnosis gangguan tidur yang
spesifik bersamaan dengan diagnosis lain yang relevan untu menjelaskan
secara adekuat psikopatologi dan atau patofisiologinya.

Hasil Anamnesis (Subjective)


Keluhan
Sulit masuk tidur, sering terbangun di malam hari atau mempertahankan
tidur yang optimal, atau kualitas tidur yang buruk.

Faktor Risiko
a. Adanya gangguan organik (seperti gangguan endokrin, penyakit
    jantung).
b. Adanya gangguan psikiatrik seperti gangguan psikotik, gangguan
    depresi, gangguan cemas, dan gangguan akibat zat psikoaktif.
 
Faktor Predisposisi
a. Sering bekerja di malam hari .
b. Jam kerja tidak stabil.
c. Penggunaan alkohol, cafein atau zat adiktif yang berlebihan.
d. Efek samping obat.
e. Kerusakan otak, seperti: encephalitis, stroke, penyakit Alzheimer

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)


Pemeriksaan Fisik
Pada status generalis, pasien tampak lelah dan mata cekung. Bila terdapat
gangguan organik, ditemukan kelainan pada organ.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan spesifik tidak diperlukan.

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis.

Pedoman Diagnosis

a. Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur
    atau kualitas tidur yang buruk
b. Gangguan terjadi minimal tiga kali seminggu selama minimal satu
    bulan.
c. Adanya preokupasi tidak bisa tidur dan peduli yang berlebihan terhadap
    akibatnya pada malam hari dan sepanjang siang hari.
d. Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur
    menyebabkan penderitaan yang cukup berat dan mempengaruhi fungsi
    dalam sosial dan pekerjaan.

Diagnosis Banding

a. Gangguan psikiatri.
b. Gangguan medik umum.
c. Gangguan neurologis.
d. Gangguan lingkungan.
e. Gangguan ritme sirkadian.

Komplikasi

Dapat terjadi penyalahgunaan zat.

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)


Penatalaksanaan
a. Pasien diberikan penjelasan tentang faktor-faktor risiko yang dimilikinya
    dan pentingnya untuk memulai pola hidup yang sehat dan mengatasi
    masalah yang menyebabkan terjadinya insomnia.
b. Untuk obat-obatan, pasien dapat diberikan Lorazepam 0,5 – 2 mg atau
    Diazepam 2 - 5 mg pada malam hari. Pada orang yang berusia lanjut
    atau mengalami gangguan medik umum diberikan dosis minimal efektif.
 
Konseling dan Edukasi
Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga agar mereka dapat
memahami tentang insomnia dan dapat menghindari pemicu terjadinya
insomnia.

Kriteria Rujukan

Apabila setelah 2 minggu pengobatan tidak menunjukkan perbaikan, atau
apabila terjadi perburukan walaupun belum sampai 2 minggu, pasien dirujuk
ke fasilitas kesehatan sekunder yang memiliki dokter spesialis kedokteran
jiwa.

Sarana Prasarana

Tidak ada sarana prasarana khusus

Prognosis

Prognosis pada umumnya bonam

Related Posts:

TENSION HEADACHE (SAKIT KEPALA TEGANG)

Tension Headache


No. ICPC II : N95 Tension Headache
No. ICD X : G44.2 Tension–type headache
Tingkat Kemampuan: 4A

Masalah Kesehatan

Tension Headache atau Tension Type Headache (TTH) atau nyeri kepala tipe
tegang adalah bentuk sakit kepala yang paling sering dijumpai dan sering
dihubungkan dengan jangka waktu dan peningkatan stres. Sebagian besar
tergolong dalam kelompok yang mempunyai perasaan kurang percaya diri,
selalu ragu akan kemampuan diri sendiri dan mudah menjadi gentar dan
tegang. Pada akhirnya, terjadi peningkatan tekanan jiwa dan penurunan
tenaga. Pada saat itulah terjadi gangguan dan ketidakpuasan yang
membangkitkan reaksi pada otot-otot kepala,leher, bahu, serta vaskularisasi
kepala sehingga timbul nyeri kepala.

Nyeri kepala ini lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki
dengan perbandingan 3:1. TTH dapat mengenai semua usia, namun sebagian
besar pasien adalah dewasa muda yang berusiasekitar antara 20-40 tahun.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Pasien datang dengan keluhan nyeri yang tersebar secara difus dan sifat
nyerinya mulai dari ringan hingga sedang.Nyeri kepala tegang otot biasanya
berlangsung selama 30 menit hingga 1 minggu penuh. Nyeri bisa dirasakan
kadang-kadang atau terus menerus. Nyeri pada awalnya dirasakan pasien
pada leher bagian belakang kemudian menjalar ke kepala bagian belakang
selanjutnya menjalar ke bagian depan. Selain itu, nyeri ini jugadapat menjalar
ke bahu. Nyeri kepala dirasakan seperti kepala berat, pegal, rasa kencang
pada daerah bitemporal dan bioksipital, atau seperti diikat di sekeliling kepala.
Nyeri kepala tipe ini tidak berdenyut.
Pada nyeri kepala ini tidak disertai mual ataupun muntah tetapi anoreksia
mungkin saja terjadi. Gejala lain yang juga dapat ditemukan seperti insomnia
(gangguan tidur yang sering terbangun atau bangun dini hari), nafas pendek,
konstipasi, berat badan menurun, palpitasi dan gangguan haid.
Pada nyeri kepala tegang otot yang kronis biasanya merupakan manifestasi
konflik psikologis yang mendasarinya seperti kecemasan dan depresi.

Faktor Risiko: -

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)


Pemeriksaan Fisik
Tidak ada pemeriksaan fisik yang berarti untuk mendiagnosis nyeri
kepalategang otot ini. Pada pemeriksaan fisik, tanda vital harus normal,
pemeriksaan neurologis normal.
Pemeriksaan yang dilakukan berupa pemeriksaan kepala dan leher serta
pemeriksaan neurologis yang meliputi kekuatan motorik, refleks, koordinasi,
dansensoris.
Pemeriksaan mata dilakukan untuk mengetahui adanya peningkatan tekanan
pada bola mata yang bisa menyebabkan sakit kepala.
Pemeriksaan daya ingat jangka pendek dan fungsi mental pasien juga
dilakukan dengan menanyakan beberapa pertanyaan. Pemeriksaan ini
dilakukan untuk menyingkirkan berbagai penyakit yang serius yang memiliki
gejala nyeri kepala seperti tumor atau aneurisma dan penyakit lainnya.
 
Pemeriksaan Penunjang
Tidak diperlukan

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang
normal. Anamnesis yang mendukung adalah adanya faktor psikis yang
melatar belakangi dan karakteristik gejala nyeri kepala (tipe, lokasi, frekuensi
dan durasi nyeri) harus jelas.
 
Klasifikasi
Menurut lama berlangsungnya, nyeri kepala tegang otot ini dibagi
menjadinyeri kepala episodik jika berlangsungnya kurang dari 15 hari dengan
serangan yang terjadi kurang dari1 hari perbulan (12 hari dalam 1 tahun).
Apabila nyeri kepala tegang otot tersebut berlangsung lebih dari 15 hari
selama 6 bulan terakhir dikatakan nyeri kepala tegang otot kronis.

Diagnosis Banding

a. Migren
b. Cluster-type hedache (nyeri kepala kluster)

Komplikasi : -

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
a. Pembinaan hubungan empati awal yang hangat antara dokter dan
    pasien merupakan langkah pertama yang sangat penting untuk
    keberhasilan pengobatan. Penjelasan dokter yang meyakinkan pasien
    bahwa tidak ditemukan kelainan fisik dalam rongga kepala atau
    otaknya dapat menghilangkan rasa takut akan adanya tumor otak atau
    penyakit intrakranial lainnya. Penilaian adanya kecemasan atau depresi
    harus segera dilakukan. Sebagian pasien menerima bahwa kepalanya
    berkaitan dengan penyakit depresinya dan bersedia ikut program
    pengobatan sedangkan pasien lain berusaha menyangkalnya. Oleh
    sebab itu, pengobatan harus ditujukan kepada penyakit yang mendasari
    dengan obat anti cemas atau anti depresi serta modifikasi pola hidup
    yang salah, disamping pengobatan nyeri kepalanya.
b. Saat nyeri timbul dapat diberikan beberapa obat untuk menghentikan
    atau mengurangi sakit yang dirasakan saat serangan muncul.
    Penghilang sakit yang sering digunakan adalah: acetaminophen dan
    NSAID seperti aspirin, ibuprofen, naproxen,dan ketoprofen. Pengobatan
    kombinasi antara acetaminophen atau aspirin dengan kafein atau obat
    sedatif biasa digunakan bersamaan. Cara ini lebih efektif untuk
    menghilangkan sakitnya, tetapi jangan digunakan lebih dari 2 hari
    dalam seminggu dan penggunaannya harus diawasi oleh dokter.
c. Pemberian obat-obatan antidepresi yaitu amitriptilin
    Tabel 37. Analgesik nonspesifik untuk TTH

    * Respon terapi dalam 2 jam (nyeri kepala residual menjadi ringan atau hilang dalam
       2 jam).

Konseling dan Edukasi
a. Keluarga ikut meyakinkan pasien bahwa tidak ditemukan kelainan fisik
    dalam rongga kepala atau otaknya dapat menghilangkan rasa takut
    akan adanya tumor otak atau penyakit intrakranial lainnya.
b. Keluarga ikut membantu mengurangi kecemasan atau depresi pasien,
    serta menilai adanya kecemasan atau depresi pada pasien.

Kriteria Rujukan

a. Bila nyeri kepala tidak membaik maka dirujuk ke fasilitas pelayanan
    kesehatan sekunder yang memiliki dokter spesialis saraf.
b. Bila depresi berat dengan kemungkinan bunuh diri maka pasien harus
    dirujuk ke pelayanan sekunder yang memiliki dokter spesialis jiwa.

Sarana Prasarana

Obat analgetik

Prognosis

Prognosis umumnya bonam karena dapat terkendali dengan pengobatan
pemeliharaan.

Related Posts:

BELL'S PALSY

Bells’ Palsy

 



No. ICPC II : N91 Facial paralysis/Bells’ palsy
No. ICD X : G51.0 Bells’ palsy
Tingkat Kemampuan: 4A

Masalah Kesehatan

Bells’palsy adalah paralisis fasialis idiopatik, merupakan penyebab tersering
dari paralisis fasialis unilateral. Bells’ palsy merupakan kejadian akut,
unilateral, paralisis saraf fasial type LMN (perifer), yang secara gradual
mengalami perbaikan pada 80-90% kasus.

Penyebab Bells’ palsy tidak diketahui, diduga penyakit ini bentuk polineuritis
dengan kemungkinan virus, inflamasi, auto imun dan etiologi iskemik.
Peningkatan kejadian berimplikasi pada kemungkinan infeksi HSV type I dan
reaktivasi herpes zoster dari ganglia nervus kranialis.

Bells’ palsy merupakan satu dari penyakit neurologis tersering yang
melibatkan saraf kranialis, dan penyebab tersering (60-75% dari kasus
paralisis fasialis unilateral akut) paralisis fasial di dunia.
Bells’ palsy lebih sering ditemukan pada usia dewasa, orang dengan DM, dan
wanita hamil.

Hasil Anamnesis (Subjective)


Keluhan
Pasien datang dengan keluhan:
a. Paralisis otot fasialis atas dan bawah unilateral, dengan onset akut
   (periode 48 jam)
b. Nyeri auricular posterior
c. Penurunan produksi air mata
d. Hiperakusis
e. Gangguan pengecapan
f. Otalgia

Gejala awal:
a. Kelumpuhan muskulus fasialis
b. Tidak mampu menutup mata
c. Nyeri tajam pada telinga dan mastoid (60%)
d. Perubahan pengecapan (57%)
e. Hiperakusis (30%)
f. Kesemutan pada dagu dan mulut
g. Epiphora
h. Nyeri ocular
i. Penglihatan kabur

Onset
Onset Bells’ palsy mendadak, dan gejala mencapai puncaknya kurang dari 48
jam. Gejala yang mendadak ini membuat pasien khawatir atau menakutkan
pasien, sering mereka berpikir terkena stroke atau terdapat tumor dan distorsi
wajah akan permanen. Karena kondisi ini terjadi secara mendadak dan cepat,
pasien sering datang langsung ke IGD. Kebanyakan pasien mencatat paresis
terjadi pada pagi hari. Kebanyakan kasus paresis mulai terjadi selama pasien
tidur.

Faktor Risiko: -

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)


Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan yang teliti pada kepala, telinga, mata, hidung dan mulut harus
dilakukan pada semua pasien dengan paralisis fasial.
a. Kelemahan atau paralisis yang melibatkan saraf fasial (N VII) melibatkan
    kelemahan wajah satu sisi (atas dan bawah). Pada lesi UMN (lesi supra
    nuclear di atas nukleus pons), 1/3 wajah bagian atas tidak mengalami
    kelumpuhan. Muskulus orbikularis, frontalis dan korrugator diinervasi
    bilateral pada level batang otak. Inspeksi awal pasien memperlihatkan
    lipatan datar pada dahi dan lipatan nasolabial pada sisi kelumpuhan.
b. Saat pasien diminta untuk tersenyum, akan terjadi distorsi dan
    lateralisasi pada sisi berlawanan dengan kelumpuhan.
c. Pada saat pasien diminta untuk mengangkat alis, sisi dahi terlihat datar.
d. Pasien juga dapat melaporkan peningkatan salivasi pada sisi yang
    lumpuh.

 




















Jika paralisis melibatkan hanya wajah bagian bawah, penyebab sentral harus
dipikirkan (supranuklear). Jika pasien mengeluh kelumpuhan kontra lateral
atau diplopia berkaitan dengan kelumpuhan fasial kontralateral supranuklear,
stroke atau lesi intra serebral harus sangat dicurigai.

Jika paralisis fasial onsetnya gradual, kelumpuhan pada sisi kontralateral,
atau ada riwayat trauma dan infeksi, penyebab lain dari paralisis fasial harus
sangat dipertimbangkan.

Progresifitas paresis masih mungkin,namun biasanya tidak memburuk pada
hari ke 7 sampai 10. Progresifitas antara hari ke 7-10 dicurigai diagnosis yang
berbeda.

Pasien dengan kelumpuhan fasial bilateral harus dievaluasi sebagai Sindroma
Guillain-Barre, penyakit Lyme, dan meningitis.

Manifestasi Okular
Komplikasi okular awal:
a. Lagophthalmos (ketidakmampuan untuk menutup mata total)
b. Corneal exposure
c. Retraksi kelopak mata atas
d. Penurunan sekresi air mata
e. Hilangnya lipatan nasolabial
f. Erosi kornea, infeksi dan ulserasi (jarang)

Manifestasi okular lanjut
a. Ringan: kontraktur pada otot fasial, melibatkan fisura palpebral.
b. Regenerasi aberan saraf fasialis dengan sinkinesis motorik.
c. Sinkinesis otonom (air mata buaya-tetes air mata saat mengunyah).
d. Dua pertiga pasien mengeluh masalah air mata. Hal ini terjadi karena
    penurunan fungsi orbicularis okuli dalam mentransport air mata.

Nyeri auricular posterior
Separuh pasien dengan Bells’ palsy mengeluh nyeri auricular posterior. Nyeri
sering terjadi simultan dengan paresis, tapi nyeri mendahului paresis 2-3 hari
sekitar pada 25% pasien. Pasien perlu ditanyakan apakah ada riwayat trauma,
yang dapat diperhitungkan menyebabkan nyeri dan paralisis fasial. Sepertiga
pasien mengalami hiperakusis pada telinga ipsilateral paralisis, sebagai akibat
kelumpuhan sekunder otot stapedius.

Gangguan pengecapan
Walaupun hanya sepertiga pasien melaporkan gangguan pengecapan, sekitar
80% pasien menunjukkan penurunan rasa pengecapan.
Kemungkinan pasien gagal mengenal penurunan rasa, karena sisi lidah yang
lain tidak mengalami gangguan. Penyembuhan awal pengecapan
mengindikasikan penyembuhan komplit.

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium darah: Gula darah sewaktu

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan
neurologis (saraf kranialis, motorik, sensorik, serebelum). Bells’ palsy adalah
diagnosis eksklusi.
Gambaran klinis penyakit yang dapat membantu membedakan dengan
penyebab lain dari paralisis fasialis:
a. Onset yang mendadak dari paralisis fasial unilateral
b. Tidak adanya gejala dan tanda pada susunan saraf pusat, telinga, dan
     penyakit cerebellopontin angle.


Jika terdapat kelumpuhan pada saraf kranial yang lain, kelumpuhan motorik
dan gangguan sensorik, maka penyakit neurologis lain harus dipikirkan
(misalnya: stroke, GBS, meningitis basilaris, tumor Cerebello Pontine Angle).
Gejala tumor biasanya kronik progresif. Tumor CPA dapat melibatkan paralisis
saraf VII, VIII, dan V. Pasien dengan paralisis progresif saraf VII lebih lama dari
3 minggu harus dievaluasi sebagai neoplasma.

Klasifikasi
Sistem grading ini dikembangkan oleh House and Brackmann dengan skala I
sampai VI.
a. Grade I adalah fungsi fasial normal.
b. Grade II disfungsi ringan. Karakteristiknya adalah sebagai berikut:
    1. Kelemahan ringan saat diinspeksi mendetil.
    2. Sinkinesis ringan dapat terjadi.
    3. Simetris normal saat istirahat.
    4. Gerakan dahi sedikit sampai baik.
    5. Menutup mata sempurna dapat dilakukan dengan sedikit usaha.
    6. Sedikit asimetri mulut dapat ditemukan.
c. Grade III adalah disfungsi moderat, dengan karekteristik:
    1. Asimetri kedua sisi terlihat jelas, kelemahan minimal.
    2. Adanya sinkinesis, kontraktur atau spasme hemifasial dapat
       ditemukan.
    3. Simetris normal saat istirahat.
    4. Gerakan dahi sedikit sampai moderat.
    5. Menutup mata sempurna dapat dilakukan dengan usaha.
    6. Sedikit lemah gerakan mulut dengan usaha maksimal.
d. Grade IV adalah disfungsi moderat sampai berat, dengan tandanya
    sebagai berikut:
    1. Kelemahan dan asimetri jelas terlihat.
    2. Simetris normal saat istirahat.
    3. Tidak terdapat gerakan dahi.
    4. Mata tidak menutup sempurna.
    5. Asimetris mulut dilakukan dengan usaha maksimal.
e. Grade V adalah disfungsi berat. Karakteristiknya adalah sebagai berikut:
    1. Hanya sedikit gerakan yang dapat dilakukan.
    2. Asimetris juga terdapat pada saat istirahat.
    3. Tidak terdapat gerakan pada dahi.
    4. Mata menutup tidak sempurna.
    5. Gerakan mulut hanya sedikit.
f. Grade VI adalah paralisis total. Kondisinya yaitu:
    1. Asimetris luas.
    2. Tidak ada gerakan.

Dengan sistem ini, grade I dan II menunjukkan hasil yang baik, grade III dan
IV terdapat disfungsi moderat, dan grade V dan VI menunjukkan hasil yang
buruk. Grade VI disebut dengan paralisis fasialis komplit. Grade yang lain
disebut sebagai inkomplit. Paralisis fasialis inkomplit dinyatakan secara
anatomis dan dapat disebut dengan saraf intak secara fungsional. Grade ini
seharusnya dicatat pada rekam medik pasien saat pertama kali datang
memeriksakan diri.

Diagnosis Banding

Penyakit-penyakit berikut dipertimbangkan sebagai diagnosis banding, yaitu:
a. Acoustic neuroma danlesi cerebellopontine angle.
b. Otitis media akut atau kronik.
c. Amiloidosis.
d. Aneurisma A. vertebralis, A. basilaris, atau A. carotis.
e. Sindroma autoimun.
f. Botulismus.
g. Karsinomatosis.
h. Penyakit carotid dan stroke, termasuk fenomena emboli.
i. Cholesteatoma telinga tengah.
j. Malformasi congenital.
k. Schwannoma N. Fasialis.
l. Infeksi ganglion genikulatum

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
Karena prognosis pasien dengan Bells’ palsy umumnya baik, pengobatan
masih kontroversi. Tujuan pengobatan adalah memperbaiki fungsi saraf VII
(saraf fasialis) dan menurunkan kerusakan saraf.

Pengobatan dipertimbangkan untuk pasien dalam 1-4 hari onset.
Hal penting yang perlu diperhatikan:
a. Pengobatan inisial
    1. Steroid dan asiklovir (dengan prednison) mungkin efektif untuk
       pengobatan Bells’ palsy (American Academy Neurology/AAN, 2011).
    2. Steroid kemungkinan kuat efektif dan meningkatkan perbaikan
       fungsi saraf kranial, jika diberikan pada onset awal (ANN, 2012).
    3. Kortikosteroid (Prednison), dosis: 1 mg/kg atau 60 mg/day selama 6
       hari, diikuti penurunan bertahap total selama 10 hari.
    4. Antiviral: asiklovir diberikan dengan dosis 400 mg oral 5 kali sehari
       selama 10 hari. Jika virus varicella zoster dicurigai, dosis tinggi 800
       mg oral 5 kali/hari.
b. Lindungi mata
    Perawatan mata: lubrikasi okular topikal (artifisial air mata pada siang
    hari) dapat mencegah corneal exposure.
c. Fisioterapi atau akupunktur: dapat mempercepat perbaikan dan
    menurunkan sequele.

Rencana Tindak Lanjut

Pemeriksaan kembali fungsi nervus facialis untuk memantau perbaikan
setelah pengobatan.

Kriteria Rujukan

a. Bila dicurigai kelainan supranuklear
b. Tidak menunjukkan perbaikan

Sarana Prasarana

a. Palu reflex
b. Kapas
c. Obat steroid
d. Obat antiviral

Prognosis

Prognosis pada umumnya bonam, kondisi terkendali dengan pengobatan
pemeliharaan.


Sumber gamabar : http://www.moveforwardpt.com/image.axd?id=e834ea63-ab87-4fb4-a384-29b7b7507045&t=634796060478870000
http://31.media.tumblr.com/tumblr_m9p1w05w3L1rn6pqko1_1280.gif

Related Posts:

Tenggorokan Sakit Saat Minum dan Menelan Makanan

Tenggorokan memiliki fungsi memisahkan esofagus dari trankea dan mencegah makanan dan minuman untuk masuk ke saluran pernapasan, dimana tenggorok terdiri dari 2 bagian, yaitu sebagai jalur makanan (kerongkongan) dan jalur nafas (tenggorok). Lalu, bagaimana jika tenggorokan Anda terasa sakit saat minum dan menelan makanan? Rasa tidak nyaman dan cemas pasti menghantui Anda.

Dalam sesi Konsultasi Umum sepanjang 2014, pertanyaan mengenai tenggorokan sakit saat minum dan menelan makanan menjadi salah satu pertanyaan yang sering disebutkan pembaca , misalnya Retno, wanita lajang berusia 24 tahun.

Dok saya punya keluhan di tenggorokan yang untuk menelan makanan dan minum sakit serta leher belakang sakit juga.

dr Dito Anugroho pengasuh Konsultasi Kesehatan Umum menjelaskan masalah itu umumnya muncul bila seseorang mengalami demam lebih dari 38 derajat Celsius, tidak disertai batuk, dan setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter ditemui tender anterior cervical adenopathy. Selain itu disertai eksudat atau pembekakan amandel, maka ada kemungkinan diagnosisnya mengarah ke Group GABHS (group A beta-hemolytic streptococcal) pharyngitis.

"Tetapi, masih banyak lagi kemungkinan diagnosis (diagnosis banding) dari nyeri tenggorokan atau sakit tenggorokan selain faringitis, misalnya tonsillitis, tansilofaringitis, abses peritonsil," ucap dr Dito yang bekerja di Neuroscience Department and Brain and Circulation Institute of Indonesia (BCII).

Menurut dr Dito yang merupakan mantan pengajar di Universitas Surya, sakit tenggorokan atau nyeri tenggorokan 50-80% disebabkan oleh infeksi virus, misalnya virus Adenovirus, influenza virus, parainfluenza virus, dan sebagainya. Serta, sisanya (20-50%) nyeri tenggorokan disebabkan oleh bakteri, seperti: Streptococcus pyogenes grup A, Fusobacterium necrophorum, Haemophilus influenza type B, dsb.

Ia menambahkan, selain virus dan bakteri, kemungkinan lain dapat disebabkan GERD (Gastroesophageal Reflux Disease), Postnasal Drip (allergic rhinitis atau penyakit pernafasan lainnya), tiroiditis akut, batuk persisten, trauma (cedera, luka), nyeri gigi yang beralih/menjalar (referred dental pain).

"Pencegahan radang tenggorokan itu mudah. Hindari konsumsi makanan dan minuman yang beraroma tajam atau berpotensi mengiritasi (melukai) selaput lendir (mukosa) tenggorokan, misalnya makanan yang pedas, panas, berminyak (atau digoreng dengan minyak curah), dan asam. Seringlah konsumsi minuman yang hangat, seperti wedang jahe, dan jeruk manis hangat," saran dr Dito yang rajin menulis buku ini.

dr Dito menambahkan konsumsi air putih, sayuran dan buah-buahan harus diperbanyak, disertai menjaga stamina tubuh, istirahat teratur, memperbanyak beribadah, meningingkatkan spiritualitas, berpola hidup sehat, selaras, serasi dan seimbang untuk mencegah radang tenggorokan.

Related Posts:

MIGREN

Migren

No. ICPC II : N89 Migraine
No. ICD X : G43.9 Migraine, unspecified
Tingkat Kemampuan: 4A

Masalah Kesehatan

Migren adalah suatu istilah yang digunakan untuk nyeri kepala primer dengan
kualitas vaskular (berdenyut), diawali unilateral yang diikuti oleh mual,
fotofobia, fonofobia, gangguan tidur dan depresi. Serangan seringkali berulang
dan cenderung tidak akan bertambah parah setelah bertahun-tahun. Migren
bila tidak diterapi akan berlangsung antara 4-72 jam dan yang klasik terdiri
atas 4 fase yaitu fase prodromal (kurang lebih 25 % kasus), fase aura (kurang
lebih 15% kasus), fase nyeri kepala dan fase postdromal.

Pada wanita migren lebih banyak ditemukan dibanding pria dengan skala 2:1.
Wanita hamil tidak luput dari serangan migren, pada umumnya serangan
muncul pada kehamilan trimester I.

Sampai saat ini belum diketahui dengan pasti faktor penyebab migren, diduga
sebagai gangguan neurobiologis, perubahan sensitivitas sistem saraf dan
avikasi sistem trigeminal-vaskular, sehingga migren termasuk dalam nyeri
kepala primer.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Suatu serangan migren dapat menyebabkan sebagian atau seluruh tanda dan
gejala, sebagai berikut:
a. Nyeri moderat sampai berat, kebanyakan penderita migren merasakan
    nyeri hanya pada satu sisi kepala, namun sebagian merasakan nyeri
    pada kedua sisi kepala.
b. Sakit kepala berdenyut atau serasa ditusuk-tusuk.
c. Rasa nyerinya semakin parah dengan aktivitas fisik.
d. Rasa nyerinya sedemikian rupa sehingga tidak dapat melakukan
    aktivitas sehari-hari.
e. Mual dengan atau tanpa muntah.
f. Fotofobia atau fonofobia.
g. Sakit kepalanya mereda secara bertahap pada siang hari dan setelah
    bangun tidur, kebanyakan pasien melaporkan merasa lelah dan lemah
    setelah serangan.
h. Sekitar 60 % penderita melaporkan gejala prodormal, seringkali terjadi
    beberapa jam atau beberapa hari sebelum onset dimulai. Pasien
    melaporkan perubahan mood dan tingkah laku dan bisa juga gejala
    psikologis, neurologis atau otonom.

Faktor Predisposisi
a. Menstruasi biasa pada hari pertama menstruasi atau sebelumnya/
    perubahan hormonal.
b. Puasa dan terlambat makan
c. Makanan misalnya akohol, coklat, susu, keju dan buah-buahan.
d. Cahaya kilat atau berkelip.
e. Banyak tidur atau kurang tidur
f. Faktor herediter
g. Faktor kepribadian

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, tanda vital harus normal, pemeriksaan neurologis
normal. Temuan-temuan yang abnormal menunjukkan sebab-sebab sekunder,
yang memerlukan pendekatan diagnostik dan terapi yang berbeda.

Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan laboratorium tidak diperlukan, pemeriksaan ini dilakukan
    jika ditemukan hal-hal, sebagai berikut:
    1. Kelainan-kelainan struktural, metabolik dan penyebab lain yang
        dapat menyerupai gejala migren.
    2. Dilakukan untuk menyingkirkan penyakit penyerta yang dapat
        menyebabkan komplikasi.
    3. Menentukan dasar pengobatan dan untuk menyingkirkan
        kontraindikasi obat-obatan yang diberikan.
b. Pencitraan (dilakukan di rumah sakit rujukan).
c. Neuroimaging diindikasikan pada hal-hal, sebagai berikut:
    1. Sakit kepala yang pertama atau yang terparah seumur hidup
        penderita.
    2. Perubahan pada frekuensi keparahan atau gambaran klinis pada
        migren.
    3. Pemeriksaan neurologis yang abnormal.
    4. Sakit kepala yang progresif atau persisten.
    5. Gejala-gejala neurologis yang tidak memenuhi kriteria migren dengan
        aura atau hal-hal lain yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
    6. Defisit neurologis yang persisten.
    7. Hemikrania yang selalu pada sisi yang sama dan berkaitan dengan
        gejala-gejala neurologis yang kontralateral.
    8. Respon yang tidak adekuat terhadap terapi rutin.
    9. Gejala klinis yang tidak biasa.

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinis dan pemeriksaan
fisik umum dan neurologis.

Kriteria Migren:
Nyeri kepala episodik dalam waktu 4-72 jam dengan gejala dua dari nyeri
kepala unilateral, berdenyut, bertambah berat dengan gerakan, intensitas
sedang sampai berat ditambah satu dari mual atau muntah, fonopobia atau
fotofobia.

Diagnosis Banding

a. Arteriovenous Malformations
b. Atypical Facial Pain
c. Cerebral Aneurysms
d. Childhood Migraine Variants
e. Chronic Paroxysmal Hemicrania
f. Cluster-type hedache (nyeri kepala kluster)

Komplikasi

a. Stroke iskemik dapat terjadi sebagai komplikasi yang jarang namun
    sangat serius dari migren. Hal ini dipengaruhi oleh faktor risiko seperti
    aura, jenis kelamin wanita, merokok, penggunaan hormon estrogen.
b. Pada migren komplikata dapat menyebabkan hemiparesis.

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
a. Pada saat serangan pasien dianjurkan untuk menghindari stimulasi
    sensoris berlebihan.
b. Bila memungkinkan beristirahat di tempat gelap dan tenang dengan
    dikompres dingin.
    1. Perubahan pola hidup dapat mengurangi jumlah dan tingkat
        keparahan migren, baik pada pasien yang menggunakan obat-obat
       preventif atau tidak.
    2. Menghindari pemicu, jika makanan tertentu menyebabkan sakit
       kepala, hindarilah dan makan makanan yang lain. Jika ada aroma
       tertentu yang dapat memicu maka harus dihindari. Secara umum
       pola tidur yang reguler dan pola makan yang reguler dapat cukup
       membantu.
   3. Berolahraga secara teratur, olahraga aerobik secara teratur
      mengurangi tekanan dan dapat mencegah migren.
   4. Mengurangi efek estrogen, pada wanita dengan migren dimana
      estrogen menjadi pemicunya atau menyebabkan gejala menjadi lebih
      parah, atau orang dengan riwayat keluarga memiliki tekanan darah
      tinggi atau stroke sebaiknya mengurangi obat-obatan yang
      mengandung estrogen.
  5. Berhenti merokok, merokok dapat memicu sakit kepala atau
      membuat sakit kepala menjadi lebih parah (dimasukkan di
      konseling).
  6. Penggunaan headache diary untuk mencatat frekuensi sakit kepala.
  7. Pendekatan terapi untuk migren melibatkan pengobatan akut
      (abortif) dan preventif (profilaksis).
c. Pengobatan Abortif:
    1. Analgesik spesifik adalah analgesik yang hanya bekerja sebagai
        analgesik nyeri kepala. Lebih bermanfaat untuk kasus yang berat
        atau respon buruk dengan OINS. Contoh: Ergotamin,
        Dihydroergotamin, dan golongan Triptan yang merupakan agonis
        selektif reseptor serotonin pada 5-HT1.
        Ergotamin dan DHE diberikan pada migren sedang sampai berat
        apabila analgesik non spesifik kurang terlihat hasilnya atau memberi
        efek samping. Kombinasi ergotamin dengan kafein bertujuan untuk
        menambah absorpsi ergotamin sebagai analgesik. Hindari pada
        kehamilan, hipertensi tidak terkendali, penyakit serebrovaskuler
        serta gagal ginjal.
        Sumatriptan dapat meredakan nyeri, mual, fotobia dan fonofobia.
        Obat ini diberikan pada migren berat atau yang tidak memberikan
        respon terhadap analgesik non spesifik. Dosis awal 50 mg dengan
        dosis maksimal 200 mg dalam 24 jam.
  2. Analgesik non spesifik yaitu analgesik yang dapat diberikan pada
      nyeri lain selain nyeri kepala, dapat menolong pada migren intensitas
      nyeri ringan sampai sedang.

Tabel 35. Regimen analgesik



     * Respon terapi dalam 2 jam (nyeri kepala residual ringan atau hilang dalam 2
        jam)
      Domperidon atau metoklopropamid sebagai antiemetic dapat diberikan saat
      serangan nyeri kepala atau bahkan lebih awal yaitu pada saat fase prodromal.
d. Pengobatan preventif:
    Pengobatan preventif harus selalu diminum tanpa melihat adanya
    serangan atau tidak. Pengobatan dapat diberikan dalam jangka waktu
    episodik, jangka pendek (subakut), atau jangka panjang (kronis). Pada
    serangan episodik diberikan bila factor pencetus dikenal dengan baik,
    sehingga dapat diberikan analgesik sebelumnya. Terapi prevenntif
    jangka pendek diberikan apabila pasien akan terkena faktor risiko yang
    telah dikenal dalam jangka waktu tertentu, misalnya migren menstrual.
    Terapi preventif kronis diberikan dalam beberapa bulan bahkan tahun
    tergantung respon pasien.

Farmakoterapi pencegahan migren:
Tabel 36. Farmakoterapi pencegah migren



Komplikasi

a. Obat-obat NSAID seperti ibuprofen dan aspirin dapat menyebabkan efek
    samping seperti nyeri abdominal, perdarahan dan ulkus, terutama jika
    digunakan dalam dosis besar dan jangka waktu yang lama.
b. Penggunaan obat-obatan abortif lebih dari dua atau tiga kali seminggu
    dengan jumlah yang besar, dapat menyebabkan komplikasi serius yang
    dinamakan rebound.

Konseling dan Edukasi
a. Pasien dan keluarga dapat berusaha mengontrol serangan.
b. Keluarga menasehati pasien untuk beristirahat dan menghindari
    pemicu, serta berolahraga secara teratur.
c. Keluarga menasehati pasien jika merokok untuk berhenti merokok
    karena merokok dapat memicu sakit kepala atau membuat sakit kepala
    menjadi lebih parah.

Kriteria Rujukan

Pasien perlu dirujuk jika migren terus berlanjut dan tidak hilang dengan
pengobatan analgesik non-spesifik. Pasien dirujuk ke layanan sekunder
(dokter spesialis saraf).

Sarana Prasarana

a. Alat pemerikaan neurologis
b. Obat antimigren

Prognosis

Prognosis pada umumnya bonam, namun quo ad sanationam adalah dubia
karena sering terjadi berulang.






Related Posts:

STATUS EPILEPTIKUS

Status Epileptikus

No. ICPC II : N88 Epilepsy
No. ICD X : G41.9 Status epilepticus, unspecified
Tingkat Kemampuan: 3B

Masalah Kesehatan

Status epileptikus adalah bangkitan yang terjadi lebih dari 30 menit atau
adanya dua bangkitan atau lebih dimana diantara bangkitan-bangkitan tadi
tidak terdapat pemulihan kesadaran.
Status epileptikus merupakan keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan
penanganan dan terapi segera guna menghentikan bangkitan (dalam waktu 30
menit). Diagnosis pasti status epileptikus bila pemberian benzodiazepin awal
tidak efektif dalam menghentikan bangkitan.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan
Pasien datang dengan kejang, keluarga pasien perlu ditanyakan mengenai
riwayatpenyakit epilepsi dan pernah mendapatkan obat antiepilepsi serta
penghentian obat secara tiba-tiba.
Riwayat penyakit tidak menular sebelumnya juga perlu ditanyakan, seperti
Diabetes Melitus, stroke, dan hipertensi.
Riwayat gangguan imunitas misalnya HIV yang disertai infeksi oportunistik
dan data tentang bentuk dan pola kejang juga perlu ditanyakan secara
mendetil.

Faktor Risiko: -

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)

 

Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan dapat ditemukan adanya kejang atau gangguan perilaku,
penurunan kesadaran, sianosis, diikuti oleh takikardi dan peningkatan
tekanan darah, dan sering diikuti hiperpireksia.

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium: pemeriksaan gula darah sewaktu.

Penegakan Diagnosis (Assessment)

 

Diagnosis Klinis
Diagnosis Status Epileptikus (SE) ditegakkandari anamnesis dan pemeriksaan
fisik.

Diagnosis Banding
Pseudoseizure

Komplikasi

a. Asidosis metabolik
b. Aspirasi
c. Trauma kepala

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)


Penatalaksanaan
Pasien dengan status epilektikus, harus dirujuk ke Fasilitas Pelayanan
Kesehatan sekunder yang memiliki dokter spesialis saraf. Pengelolaan SE
sebelum sampai fasilitas pelayanan kesehatan sekunder.
 
Stadium I (0-10 menit)
a. Memperbaiki fungsi kardiorespirasi
b. Memperbaiki jalan nafas, pemberian oksigen, resusitasi bila perlu
c. Pemberian benzodiazepin rektal 10 mg
 
Stadium II (1-60 menit)
a. Pemeriksaan status neurologis
b. Pengukuran tekanan darah, nadi dan suhu
c. Pemeriksaan EKG (bila tersedia)
d. Memasang infus pada pembuluh darah besar dengan NaCl 0,9 %.

Rencana Tindak Lanjut

Melakukan koordinasi dengan PPK II dalam hal pemantauan obat dan
bangkitan pada pasien.

Konseling dan Edukasi
Memberikan informasi penyakit kepada individu dan keluarganya, tentang:
a. Penyakit dan tujuan merujuk.
b. Pencegahan komplikasi terutama aspirasi.
c. Pencegahan kekambuhan dengan meminum OAE secara teratur dan
    tidak menghentikannya secara tiba-tiba.
d. Menghindari aktifitas dan tempat-tempat yang berbahaya.

Kriteria Rujukan

Semua pasien dengan status epileptikus setelah ditegakkan diagnosis dan
telah mendapatkan penanganan awal segera dirujuk untuk:
a. Mengatasi serangan
b. Mencegah komplikasi
c. Mengetahui etiologi
d. Pengaturan obat

Sarana Prasarana

a. Oksigen
b. Kain kasa
c. Infus set
d. Spatel lidah
e. Alat pengukur gula darah sederhana

Prognosis

Prognosis umumnya dubia ad bonam untuk quo ad vitam dan fungsionam,
namun dubia ad malam untuk quo ad sanationam.

Related Posts:

Kurang Minum Susu? Waspadai Gejala Kekurangan Iodin di Usia Remaja

Gill Bembridge tak begitu khawatir ketika mendapati benjolan kecil di leher putrinya, Faye. Ia mengira putrinya hanyalah kedinginan. Hingga suatu ketika salah seorang temannya mengatakan itu bukanlah benjolan biasa.

"Ia seorang pensiunan dokter, namanya Pete Lansley. Ia bilang benjolan itu pertanda Faye kekurangan iodin. Ini tak pernah terlintas dalam benak saya sekalipun," kata Gill.

Dan ibu dua anak itu kaget ketika dampak jangka panjang dari kekurangan iodin bukan hanya benjolan, namun hingga gangguan mental, entah itu pada anak-anak maupun orang dewasa sekalipun. Khusus bagi remaja perempuan, mereka juga butuh lebih banyak iodin agar payudara dan ovariumnya berkembang dengan baik.

Menurut laporan WHO, kekurangan iodin juga erat kaitannya dengan turunnya IQ atau kepintaran, kelelahan akut, keguguran, hingga gangguan tiroid yang berperan penting dalam proses perkembangan. Bila sudah parah, kekurangan iodin juga dapat mengakibatkan hilangnya daya ingat dan mandul.

Ketika dimintai keterangan, Dr Lansley menerangkan gondongan atau benjolan yang muncul di leher gadis 9 tahun itu juga ia temukan pada anak-anak tetangganya yang masih remaja di kawasan Yorkshire. Benjolannya persis di tengah leher dan akan bergerak naik turun ketika sedang mengunyah.

"Gondongan merupakan gejala paling jelas dari kekurangan iodin. Bila tubuh kekurangan mineral ini maka kelenjar tiroid membesar agar dapat menghasilkan hormon tiroid sendiri, makanya membengkak," terang Dr Lansley .

"Di tahun 60-an saya pernah bertugas di Turki dan melihat banyak gadis remaja mengalami kondisi semacam ini, namun saya tak pernah mengira akan melihatnya di Inggris," tambahnya.

Namun dari sebuah penelitian yang dipublikasikan The Lancet di tahun 2011 terungkap bahwa 70 persen remaja di penjuru UK mengalami kekurangan iodin, meskipun hanya satu dari lima anak yang kadar iodinnya tergolong sangat rendah.

Lantas bagaimana bisa remaja-remaja di Inggris kekurangan iodin? Iodin dapat diperoleh dari makanan laut, rumput laut, ikan cod dan kerang. Akan tetapi yang lebih banyak ditemukan di Inggris adalah keju dan yoghurt.

Hanya saja di tahun 1970-an konsumsi susu di negara ini menurun drastis karena alergi dan perubahan selera di masyarakat. Sedangkan susu organik yang diproduksi di peternakan-peternakan Inggris mengandung iodin 40 persen lebih sedikit ketimbang susu yang dihasilkan di peternakan pada umumnya.

Beruntung setelah dibawa ke dokter dan mendapatkan resep suplemen iodin, gondong di leher Faye perlahan menghilang hanya dalam waktu satu bulan. Setelah itu Gill bertekad untuk memenuhi asupan susu dan makanan kaya iodin lainnya untuk putrinya itu.

Menurut ahli nutrisi Leona Victoria Djajadi, DNC, iodin tergolong ke dalam tiga nutrisi yang harus diberikan agar anak tumbuh cerdas. "Cara termudah untuk memenuhinya adalah menggunakan garam beryodium, tetapi juga jangan berlebihan," katanya kepada detikHealth beberapa waktu lalu.

Anak usia 0-1 tahun bisa mengonsumsi garam 1 gram per hari, kemudian untuk anak usia 1-6 tahun garam 2-3 gram bisa diberikan per hari.

Related Posts:

EPILEPSI (AYAN)

Epilepsi



















No. ICPC II : N88 Epilepsy
No. ICD X : G40.9 Epilepsy, unspecified
Tingkat Kemampuan: 3A

Masalah Kesehatan

Epilepsi didefinisikan sebagai suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan
epilepsi berulang berselang lebih dari 24 jam yang timbul tanpa provokasi,
sedangkan yang dimaksud dengan bangkitan epilepsi adalah manifestasi klinis
yang disebabkan oleh aktivitas listrik otak yang abnormal dan berlebihan dari
sekelompok neuron.

Etiologi epilepsi:
a. Idiopatik: tidak terdapat lesi struktural di otak atau defisit neurologis
   dan diperkirakan tidak mempunyai predisposisi genetik dan umumnya
   berhubungan dengan usia.
b. Kriptogenik: dianggap simptomatik tetapi penyebabnya belum diketahui,
   termasuk di sini syndrome west, syndrome Lennox-Gastatut dan epilepsi
   mioklonik.
c. Simptomatik: bangkitan epilepsi disebabkan oleh kelainan/lesi
   struktural pada otak, misalnya cedera kepala, infeksi SSP, kelainan
   kongenital, lesi desak ruang, gangguan peredaran darah otak, toksik
   (alkohol, obat), metabolik, kelainan neurodegeneratif.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Ada tiga langkah untuk menuju diagnosis epilepsi, yaitu:
a. Langkah pertama: memastikan apakah kejadian yang bersifat
   paroksismal merupakan bangkitan epilepsi. Pada sebagian besar kasus,
   diagnosis epilepsi dapat ditegakkan berdasarkan informasi yang
   diperoleh dari anamnesis baik auto maupun allo-anamnesis dari orang
   tua maupun saksi mata yang lain.
   1. Gejala sebelum, selama dan paska bangkitan
       • Keadaan penyandang saat bangkitan: duduk/ berdiri/ bebaring/
         tidur/ berkemih.
       • Gejala awitan (aura, gerakan/ sensasi awal/ speech arrest).
       • Pola/bentuk yang tampak selama bangkitan: gerakan
         tonik/klonik, vokalisasi, otomatisme, inkontinensia, lidah tergigit,
         pucat berkeringat, deviasi mata.
      • Keadaan setelah kejadian: bingung, terjaga, nyeri kepala, tidur,
        gaduh gelisah, Todd’s paresis.
      • Faktor pencetus: alkohol, kurang tidur, hormonal.
      • Jumlah pola bangkitan satu atau lebih, atau terdapat perubahan
        pola bangkitan.
   2. Penyakit lain yang mungkin diderita sekarang maupun riwayat
      penyakit neurologik dan riwayat penyakit psikiatrik maupun penyakit
      sistemik yang mungkin menjadi penyebab.
   3. Usia awitan, durasi, frekuensi bangkitan, interval terpanjang antar
      bangkitan.
   4. Riwayat terapi epilepsi sebelumnya dan respon terhadap terapi (dosis,
      kadar OAE, kombinasi terapi).
   5. Riwayat penyakit epilepsi dalam keluarga.
   6. Riwayat keluarga dengan penyakit neurologik lain, penyakit psikitrik
      atau sistemik.
   7. Riwayat pada saat dalam kandungan, kelahiran dan perkembangan
      bayi/anak.
   8. Riwayat bangkitan neonatal/kejang demam.
   9. Riwayat trauma kepala, infeksi SSP.
b. Langkah kedua: apabila benar terdapat bangkitan epilepsi, maka
    tentukan bangkitan tersebut bangkitan yang mana (klasifikasi ILAE
    1981).
c. Langkah ketiga: menentukan etiologi, sindrom epilepsi, atau penyakit
    epilepsi apa yang diderita pasien dilakukan dengan memperhatikan
    klasifikasi ILAE 1989. Langkah ini penting untuk menentukan
    prognosis dan respon terhadap OAE (Obat Anti Epilepsi).

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik umum pada dasarnya adalah mengamati adanya tandatanda
dari gangguan yang berhubungan dengan epilepsi seperti trauma
kepala, infeksi telinga atau sinus, gangguan kongenital, kecanduan alkohol
atau obat terlarang, kelainan pada kulit, kanker, defisit neurologik fokal.

Pemeriksaan neurologis
Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan neurologik sangat tergantung dari
interval antara dilakukannya pemeriksaan dengan bangkitan terakhir.
a. Jika dilakukan pada beberapa menit atau jam setelah bangkitan maka
    akan tampak tanda pasca iktal terutama tanda fokal seperti todds
    paresis (hemiparesis setelah kejang yang terjadi sesaat), trans aphasic
    syndrome (afasia sesaat) yang tidak jarang dapat menjadi petunjuk
    lokalisasi.
b. Jika dilakukan pada beberapa waktu setelah bangkitan terakhir berlalu,
    sasaran utama adalah menentukan apakah ada tanda-tanda disfungsi
    system saraf permanen (epilepsi simptomatik) dan walaupun jarang
    apakah ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial.

Pemeriksaan Penunjang
Dapat dilakukan di layanan sekunder yaitu EEG, pemeriksaan pencitraan
otak, pemeriksaan laboratorium lengkap dan pemeriksaan kadar OAE.

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan
neurologis.

Klasifikasi Epilepsi

A. ILAE 1981 untuk tipe bangkitan epilepsi

1. Bangkitan parsial/fokal
   1.1. Bangkitan parsial sederhana
     1.1.1. Dengan gejala motorik
     1.1.2. Dengan gejala somatosensorik
     1.1.3. Dengan gejala otonom
     1.1.4. Dengan gejala psikis
   1.2. Bangkitan parsial kompleks
   1.3. Bangkitan parsial yang menjadi umum sekunder

2. Bangkitan umum
  2.1. Lena (absence)
    2.1.1 Tipikal lena
    2.1.2. Atipikal Lena
  2.2. Mioklonik
  2.3. Klonik
  2.4. Tonik
  2.5. Tonik-Klonik
  2.6. Atonik/astatik

3. Bangkitan tak tergolongkan

B. Klasifikasi ILAE 1989 untuk epilepsi dan sindrom epilepsi
1. Fokal/partial (localized related)
  1.1. Idiopatik (berhubungan dengan usia awitan)
    1.1.1. Epilepsi beningna dengan gelombang paku di daerah sentrotemporal
    1.1.2. Epilepsi benigna dengan gelombang paroksismal pasda
              daerah oksipital
    1.1.3. Epilepsi primer saat membaca
  1.2. Simptomatik
    1.2.1. Epilepsi parsial kontinu yang kronik progresif pada anakanak
              (kojenikow’s syndrome)
    1.2.2. Sindrom dengan bangkitan yang dipresipitasi oleh suatu
              rangsangan (kurang tidur, alcohol, obat-obatan,
              hiperventilasi, repleks epilepsi, stimulasi fungsi kortikal
              tinggi, membaca)
    1.2.3. Epilepsi lobus temporal
    1.2.4. Epilepsi lobus frontal
    1.2.5. Epilepsi lobus parietal
    1.2.6. Epilepsi lobus oksipital
  1.3. Kriptogenik
 
2. Epilepsi umum
  2.1. Idiopatik
    2.1.1. Kejang neonates familial benigna
    2.1.2. Kejang neonatus benigna
    2.1.3. Kejang epilepsi mioklonik pada bayi
    2.1.4. Epilepsi lena pada anak
    2.1.5. Epilepsi lena pada remaja
    2.1.6. Epilepsi mioklonik pada remaja
    2.1.7. Epilepsi dengan bangkitan umum tonik-klonik pada saat
               terjaga
    2.1.8. Epilepsi umum idiopatik lain yang tidak termasuk salah
              satu diatas
    2.1.9. Epilepsi tonik klonik yang dipresipitasi dengan aktivasi yang
              spesifik
  2.2. Kriptogenik atau simptomatik
    2.2.1. Sindrom west (spasme infantile dan spasme salam)
    2.2.2. Sindrom lennox-gastaut
    2.2.3. Epilepsi mioklonik astatik
    2.2.4. Epilepsi mioklonik lena
  2.3. Simptomatik
    2.3.1. Etiologi non spesifik
              • Ensefalopati miklonik dini
              • Ensefalopati pada infantile dini dengan burst supresi
              • Epilepsi simptomatik umum lainnya yang tidak termasuk
                di atas
    2.3.2. Sindrom spesifik
    2.3.3. Bangkitan epilepsi sebagai komplikasi penyakit lain
 
3. Epilepsi dan sindrom yang tak dapat ditentukan fokal atau umum
  3.1. Bangkitan umum dan fokal
    3.1.1. Bangkitan neonatal
    3.1.2. Epilepsi mioklonik berat pada bayi
    3.1.3. Epilepsi dengan gelombang paku kontinyu selama tidur
              dalam
    3.1.4. Epilepsi afasia yang di dapat
    3.1.5. Epilepsi yang tidak termasuk dalam kalsifikasi diatas
  3.2. Tanpa gambaran tegas local atau umum

4. Sindrom khusus
  4.1. Bangkitan yang berkaitan dengan situasi tertentu
    4.1.1. Kejang demam
    4.1.2. Bangkitan kejang/status epileptikus yang hanya sekali
    4.1.3. Bangkitan yang hanya terjadi bila terdapat kejadian
              metabolic akut atau toksis, alkohol, obat-obatan, eklampsia,
              hiperglikemik non ketotik
    4.1.4. Bangkitan berkaitan dengan pencetus spesifik (epilepsi
              reflektorik)

Diagnosis Banding

a. Sinkop
b. Transient Ischemic Attack
c. Vertigo
d. Global amnesia
e. Tics dan gerakan involunter

Komplikasi: -

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan
Sebagai dokter pelayanan primer, bila pasien terdiagnosis sebagai epilepsi,
untuk penanganan awal pasien harus dirujuk ke dokter spesialis saraf.
a. OAE diberikan bila:
   1. Diagnosis epilepsi sudah dipastikan
   2. Pastikan faktor pencetus dapat dihindari (alkohol, stress, kurang
        tidur, dan lain-lain)
   3. Terdapat minimum 2 bangkitan dalam setahun
   4. Penyandang dan atau keluarganya sudah menerima penjelasan
        terhadap tujuan pengobatan
   5. Penyandang dan/atau keluarganya telah diberitahu tentang
       kemungkinan efek samping yang timbul dari OAE
b. Terapi dimulai dengan monoterapi menggunakan OAE pilihan sesuai
    dengan jenis bangkitan (tabel 3) dan jenis sindrom epilepsi:

Tabel 32. OAE pilihan sesuai dengan jenis bangkitan






 c. Pemberian obat dimulai dari dosis rendah dan dinaikkan bertahap
     sampai dosis efektif tercapai atau timbul efek samping. Kadar obat
     dalam darah ditentukan bila bangkitan tidak terkontrol dengan dosis
    efektif. Bila diduga ada perubahan farmakokinetik OAE (kehamilan,
    penyakit hati, penyakit ginjal, gangguan absorpsi OAE), diduga
    penyandang epilepsi tidak patuh pada pengobatan. Setelah pengobatan
    dosis regimen OAE, dilihat interaksi antar OAE atau obat lain.
   Pemeriksaan interaksi obat ini dilakukan rutin setiap tahun pada
    penggunaan phenitoin.

Tabel 33. Dosis OAE


d. Bila pada penggunaan dosis maksimum OAE tidak dapat mengontrol
    bangkitan, maka dapat dirujuk kembali untuk mendapatkan
    penambahan OAE kedua. Bila OAE kedua telah mencapai kadar terapi,
    maka OAE pertama diturunkan bertahap (tapering off) perlahan-lahan.
e. Penambahan OAE ketiga baru dilakukan di layanan sekunder atau
    tersier setelah terbukti tidak dapat diatasi dengan penggunaan dosis
    maksimal kedua OAE pertama.
f. Penyandang dengan bangkitan tunggal direkomendasikan untuk dimulai
    terapi bila kemungkinan kekambuhan tinggi yaitu bila:
   1. Dijumpai fokus epilepsi yang jelas pada EEG.
   2. Pada pemeriksaan CT-Scan atau MRI Otak dijumpai lesi yang
       berkorelasi dengan bangkitan: meningioma, neoplasma otak, AVM,
       abses otak, ensephalitis herpes.
   3. Pada pemeriksaan neurologik dijumpai kelainan yang mengarah pada
       adanya kerusakan otak.
   4. Terdapatnya riwayat epilepsi pada saudara sekandung (bukan orang
       tua).
   5. Riwayat bangkitan simptomatik.
   6. Terdapat sindrom epilepsi yang berisiko tinggi seperti JME (Juvenile
       Myoclonic Epilepsi).
   7. Riwayat trauma kepala disertai penurunan kesadaran, stroke, infeksi
       SSP.
   8. Bangkitan pertama berupa status epileptikus.
      Namun hal ini dapat dilakukan di fasyankes sekunder.
g. Efek samping perlu diperhatikan, demikian pula halnya dengan interaksi
    farmakokinetik antar OAE.

Tabel 34. Efek samping OAE





h. Strategi untuk mencegah efek samping:
   1. Mulai pengobatan dengan mempertimbangkan keuntungan dan
       kerugian pemberian terapi
   2. Pilih OAE yang paling cocok untuk karakteristik penyandang
   3. Gunakan titrasi dengan dosis terkecil dan rumatan terkecil mengacu
       pada sindrom epilepsi dan karaktersitik penyandang epilepsi
i. OAE dapat dihentikan pada keadaan:
   1. Setelah minimal 2 tahun bebas bangkitan.
   2. Gambaran EEG normal.
   3. Harus dilakukan secara bertahap, pada umumnya 25% dari dosis
       semula setiap bulan dalam jangka waktu 3-6 bulan.
   4. Bila digunakan lebih dari 1 OAE, maka penghentian dimulai dari 1
       OAE yang bukan utama.
   5. Keputusan untuk menghentikan OAE dilakukan pada tingkat
       pelayanan sekunder/tersier.
j. Kekambuhan setelah penghentian OAE akan lebih besar
   kemungkinannya pada keadaan sebagai berikut:
   1. Semakin tua usia, kemungkinan kekambuhan semakin tinggi.
   2. Epilepsi simptomatik.
   3. Gambaran EEG abnormal.
   4. Semakin lama adanya bangkitan sebelum dapat dikendalikan.
   5. Penggunaan lebih dari satu OAE.
   6. Mendapatkan satu atau lebih bangkitan setelah memulai terapi.
   7. Mendapat terapi setelah 10 tahun.

Kriteria Rujukan

Setelah diagnosis epilepsi ditegakkan maka pasien segera dirujuk ke
pelayanan sekunder yang memiliki dokter spesialis saraf.

Sarana Prasarana

Obat OAE

Prognosis

Prognosis umumnya bonam, tergantung klasifikasi epilepsi yang dideritanya,
sedangkan serangan epilepsi dapat berulang, tergantung kontrol terapi dari
pasien.





Sumber gambar :
 http://noropsikiyatri.blogspot.com/p/epilepsi-sara-olarak-da-bilinir.html
http://kateginnivan.files.wordpress.com/2013/03/purple-day-v.jpg
http://zelvikri.files.wordpress.com/2013/01/first-aid-for-seizures3_page_2.jpg

Related Posts: